Bila Ditemukan Dini dan Diobati dengan Baik Dapat Mencegah Kecacatan

Ada dua penyakit kulit yang perlu diwaspadai karena sering diabaikan yaitu Kusta dan Frambusia. Kusta dan frambusia merupakan penyakit kulit menular dan menahun yang mudah disembuhkan apabila ditemukan secara dini. Bila ditemukan sedini mungkin dan diobati dengan baik maka dapat mencegah penderita dari kecacatan tetap dan sembuh dalam waktu 6 bulan. Oleh karena itu, peran serta masyarakat sangat penting dalam menemukan penderita dan melaporkan ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan dan pengobatan.

Penyakit kusta adalah penyakit kulit menular yang menahun (lama) disebabkan oleh kuman kusta Mycobacterium leprae, yang menyerang kulit dan dapat menyerang jaringan tubuh lainnya. Apabila kusta tidak diobati secara dini, maka akan menimbulkan kecacatan menetap. Gejala kusta pada awalnya kelainan bercak putih seperti panu atau bercak kemerahan yang bila diraba tidak terasa (mati rasa), tidak gatal, dan tidak sakit. Apabila tidak dilakukan pengobatan yang tepat dapat menyebabkan kecacatan. Mati rasa pada mata menyebabkan kelopak mata tidak dapat menutup bahkan mengalami kebutaan, mati rasa pada telapak tangan, jari-jari menjadi keriting dan memendek, lunglai, dan putus-putus (mutilasi).

Sedangkan frambusia, biasa disebut Patek atau Bubo adalah penyakit kulit menular menahun yang kambuhan, disebabkan oleh kuman Treponema pertenue. Gejala awalnya berupa benjolan kecil-kecil di kulit yang tidak sakit dengan permukaan basah tanpa nanah. Pada gejala lanjut dapat mengenai telapak tangan, telapak kaki, sendi dan tulang, sehingga mengalami kecacatan. Kelainan pada kulit ini biasanya kering, kecuali jika disertai infeksi (borok).

Hal ini disampaikan oleh Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP&PL) Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K) dalam sambutannya yang dibacakan oleh Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Dr. Iwan M. Muljono, MPH pada pembukaan Seminar Sehari Pemberdayaan Masyarakat Menanggulangi Penyakit Kulit yang Perlu Diwaspadai, Kamis, 5 Maret 2009, di Hotel Horison Bekasi.

Dirjen PP&PL mengatakan, selain kusta, frambusia juga terdapat di daerah yang sulit untuk mendapatkan air bersih dan termasuk daerah kumuh. Penyakit kulit frambusia mudah untuk disembuhkan, hanya dengan satu kali suntikan Benzathine Peniciline untuk penderita dan semua orang yang pernah kontak dengan penderita.

Sama halnya dengan kusta, peran masyarakat dalam pencegahan penularan juga sangat penting dengan menemukan sedini mungkin penderita frambusia dan semua kontaknya sehingga dapat segera diobati. Selain itu, pola hidup bersih dan sehat juga perlu diterapkan agar terhindar dari penyakit kulit kusta dan frambusia dan penyakit menular lainnya.

Jumlah penderita kusta dan frambusia saat ini sudah turun apabila dibandingkan jumlah penduduk Indonesia yang padat. Pada tahun 2007, ditemukan lebih dari 17.000 kasus kusta, belum termasuk yang cacat akibat kusta dan kusta yang muncul pada usia muda. Di Asia Tenggara, hanya ada dua negara yang memiliki penderita penyakit Frambusia yaitu Indonesia dan Timor Leste. Sedangkan penyakit Kusta, ada India dan Indonesia. Frambusia di Indonesia paling banyak ditemukan di daerah bagian timur yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT), tambah Dirjen PP&PL.

Dalam menanggulangi masalah ini, Dirjen PP&PL mengemukakan ada 4 strategi Departemen Kesehatan yaitu, satu adalah menggerakkan dan memberdayakan masyarakat agar mandiri dalam hidupnya dan sehat. Kedua, adanya akses pelayanan kesehatan yang berkualitas. Ketiga, meningkatkan sistem pengamatan penyakit, monitoring, serta informasi kesehatan. Dan yang keempat, meningkatkan pembiayaan kesehatan, baik untuk Departemennya sendiri, maupun untuk mengganti biaya masyarakat miskin yang tidak mempunyai anggaran untuk berobat melalui contohnya adalah Jamkesmas.

Seminar sehari ini dihadiri sekitar 80 orang yang berasal dari Unit-Unit di Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Sub Dinkes Jakarta Pusat, Barat, Utara, Timur, dan Selatan, Departemen Agama, Departemen Sosial, PKK, PP Muhammadiyah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), WHO, Yayasan Kusta Indonesia (YKI), RS Sintanala, dan media massa. Sedangkan narasumber yang memberikan paparan dan penjelasan yaitu Kepala Sub Direktorat Kusta dan Frambusia dr. Christina Widaningrum, Dr. Triana, SpKK dan Dr. Emmy S. Sjamsoe, SpKK(K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM, dan dari Departemen Agama serta tim PILAT (Pilot project for Leprosy Awareness Tools).

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Setjen Depkes. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-5290 7416-9, 5292 1669, 522 3002 atau alamat e-mail puskom.depkes@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *