Kusta Bukan Penyakit Keturunan atau Disebabkan Kutukan

Penyakit Kusta (Leprocy) bukan penyakit keturunan, bukan pula disebabkan oleh kutukan, guna-guna, dosa atau makanan. Kusta merupakan penyakit menular dan menahun yang disebabkan oleh kuman Myctobacterium Leprae. Penyakit ini menyerang kulit, saraf tepi dan dapat pula menyerang jaringan tubuh lainnya kecuali otak. Demikian dikatakan oleh dr. H. Heriyadi Manan, Sp.OG, Direktur RS Kusta dr. Rivai Abdullah saat menerima kunjungan Mr. Yohei Sasakawa, Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan Dr. Khancit Limpakarnjanarat, perwakilan WHO untuk Indonesia yang didampingi oleh tim dari Kementerian Kesehatan RI pada Selasa (31/08/2010) di Plaju, Palembang.

Dr. Heriyadi mengatakan, RS ini didirikan pada tahun 1914 oleh nahkoda kapal Belanda karena anak buahnya terkena penyakit Kusta. Lokasi awalnya berada di daerah Kertapati, tapi karena mendapat protes masyarakat akhirnya dipindahkan ke Sungai Kundur yang terletak ditepi Sungai Musi, sekitar 20 KM dari Kota Palembang dan dikelola oleh Yayasan Bala Keselamatan. Berdasarkan S.K. Menteri Kesehatan RI No.95048 /Hukum tanggal 9 Desember 1960, maka pada tanggal 1 April 1961 rumah sakit ini diserahkan kepada Departemen Kesehatan RI.

Tanggal 4 Juni 1985, RS Kusta Sungai Kundur ditetapkan sebagai RS Pembina regional bagian barat yang meliputi Sumatera dan Kalimantan Barat. Kemudian pada 31 Oktober 1995 diberi izin untuk melakukan pelayanan umum, dan tahun 2010 menjadi RS Badan Layanan Umum (BLU). Perubahan nama menjadi RS dr. Rivai Abdullah dilakukan pada Agustus 2006 untuk menghormati jasa-jasa dr. Rivai Abdullah semasa menjabat sebagai Direktur RS Sungai Kundur (1971-1986), ujar dr. Heriyadi.

RS dr. Rivai Abdullah memiliki berbagai fasilitas seperti Instalasi Gawat Darurat 24 jam, instalasi rawat jalan dengan poliklinik Kusta, mata, gigi, kulit & kelamin, psikologi, dan fisioterapi. Ada pula fasilitas Protesa & Orthosa, laboratorium, radiologi, serta apotek/farmasi. Untuk rawat inap kusta terdapat fasilitas 250 bed, ruang bedah rekonstruksi, dan kamar luka. Saat ini di RS dr. Rivai Abdullah ada 40 orang penderita Kusta yang sedang dirawat disana, kata Dr. Heriyadi.

Menurut Dr. Heriyadi, gejala Kusta pada awalnya terdapat kelainan kulit berupa bercak putih seperti panu atau bercak kemerahan yang disertai dengan kurang/hilang rasa, tidak gatal dan tidak sakit. Pada keadaan lanjut jika tidak mendapatkan pengobatan, Kusta dapat menyebabkan kecacatan yang membuat penderitanya dikucilkan masyarakat, diabaikan dan sulit mendapatkan pekerjaan.

Stigma negatif terhadap penderita Kusta inilah yang coba untuk dihilangkan oleh Mr. Sasakawa dengan cara memberikan pengetahuan dan pengertian kepada masyarakat tentang penyakit Kusta, bahwa Kusta bisa disembuhkan, dan jika penderitanya sudah sembuh maka kondisinya tidak berbeda dengan penyakit lain seperti, malaria, DBD, dan sebagainya. “Leprocy is not caused by curse, it’s 100% cureable, if it’s treated early there will be no deformity, so early detection is very very important. And therefore, there should be no discrimination whatsoever against them and their family”, ujar Mr. Sasakawa.

Pada kesempatan itu, Mr. Sasakawa dan dr. Khancit mengunjungi perkampungan penderita Kusta yang terletak di sebelah RS. dr. Rivai Abdullah. Di kampung yang dihuni sekitar 50 orang itu rombongan bertemu muka dengan mantan penderita Kusta dan menjelaskan tentang misi apa yang diemban oleh Kemenkes, WHO, dan Sasakawa Foundation dalam memperjuangkan penanganan Kusta, serta merubah stigma negatif masyarakat terhadap penderita Kusta.

Kemudian rombongan menuju ke Kantor Gubernur Sumatera Selatan untuk melakukan audiensi dengan Gubernur Alex Noerdin. Pada kesempatan itu Alex Noerdin menyampaikan apresiasi atas apa yang telah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, WHO, dan Sasakawa Foundation terhadap penanganan masalah Kusta. Alex berjanji untuk berupaya maksimal dalam mewujudkan Sumatera Selatan bebas penyakit Kusta serta membantu menyebarluaskan informasi tentang Kusta agar penderita dan keluarganya tidak lagi dikucilkan dan diabaikan oleh masyarakat.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail; puskom.publik@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *